Ini Alasan Rudy Santoso Tidak Pakai Gelar Akademik

METRO – Ada yang aneh saat melihat sampel surat suara saat pengundian nomor urut calon oleh KPU beberapa hari lalu. Yakni tidak adanya gelar akademik yang terpampang di nama calon nomor urut 3. Tercatat hanya Ampian Bustami yang menempelkan H sebelum namanya, yang artinya haji. Selain itu, di belakang nama Ampian Bustami dan Rudy Santoso tidak ada gelar akademik apa pun yang disertakan. Padahal baik Ampian Bustami maupun Rudy Santoso sama-sama pernah menempuh pendidikan tinggi.

Usut punya usut, ini merupakan kesepakatan Calon Wakil Walikota Metro Rudy Santoso. Ia menginginkan kesetaraan bagi calon dan masyarakatnya. Menurutnya, walaupun Metro dikenal sebagai kota pendidikan, namun sebagian besar masih belum bisa menempuh pendidikan ke perguruan tinggi. Hal ini yang diakui menyentuh hatinya dan membuatnya mengambil keputusan untuk menanggalkan gelar akademiknya itu dan diamini Ampian Bustami sebagai calon walikotanya.
“Saya menganut asas kesetaraan Mas. Gelar akademik kita panjang tapi rakyat kita gak mengerti dan tidak sampai mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan masih ada yang tidak lulus SMA. Ini sungguh tragis dan membuat hati saya tersentuh. Saya berpikir, saya masih muda dan saya merasa setara dengan masyarakat semuanya. Mau yang gelar akademiknya panjang ataupun yang tidak sekolah sekalipun, saya setara. Saya bisa berkomunikasi dan merangkul semua golongan,” ujar Rudy Santoso kepada radarmetrodigital, Rabu (30/9/2020).
Rudy menambahkan, untuk apa gelar panjang-panjang tapi bekerja dengan orang lain, bahkan sampai ke luar negeri? Menurutnya, lebih baik lulusan SD tapi mampu menciptakan lapangan kerja dan membantu pemerintah mengurangi pengangguran. “Saya lebih menghargai orang yang tidak kuliah tapi bisa jadi entrepreneur, itu akan lebih bermanfaat. Daripada gelar panjang-panjang tapi cari kerja dengan orang lain sampai ke luar negeri. Saya pikir itu malah kurang baik. Bahkan yang bekerja di perusahaan saya, tidak sedikit yang panjang gelarnya,” jelas Rudy.
Tercatat Rudy memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang oli dan perdagangan. Khusus oli dan onderdil mobil, Rudy sangat fokus dan baru saja mengakuisisi beberapa perusahaan oli besar level nasional. Menurutnya, pemikiran yang diperoleh dari bangku kuliah bukan untuk ditonjolkan, tapi untuk diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sehingga ada manfaat nyata dari pendidikan akademik yang ditempuh bagi masyarakat.
“Dari kultur dan didikan keluarga, saya dari usia 17 tahun harus hidup dari usaha sendiri. Makanya, nyalon pun (pilkada-red) walaupun masih bujang, orangtua tidak ikut campur. Orangtua hanya mendoakan yang terbaik selagi langkah kita positif. Bisa dilihat dari keseharian aktivitas saya selama pencalonan ini nyaris tanpa didampingi orangtua. Ketemu siapa pun, orangtua hanya saya beri tahu dan minta doanya. Itu karakter saya di keluarga dan memang sudah diajarkan untuk mandiri sejak dulu,” ucapnya yang menyebut harta kekayaan yang dilaporkan di e-LHKPN KPK merupakan hasil kerja kerasnya sendiri sejak usia 17 tahun itu. (Bon)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten mengandung hak cipta dari LampuIJO.com