Kekerasan Anak Didominasi Kejahatan Seksual

METRO – Tingginya angka kekerasan anak menjadi perhatian pemerintah khususnya Kota Metro. Pasalnya, angka kekerasan anak yang terjadi saat ini banyak didominasi  pada kejahatan seksual.

Demikian dikatakan Ketua Komnas Perlindungan Anak RI Arist Merdeka Sirait saat seminar nasional perlindungan anak di Barokah Meeting Point (BMP) Kota Metro, Kamis (28/9). Ia menjelaskan, 50 persen kasus kejahatan terhadap anak di Kota Metro didominasi kejahatan seksual. Sebab, hampir di setiap daerah di Indonesia banyak ditemukan tindak kekerasan seksual. Karenanya, Indonesia saat ini darurat kejahatan seksual terhadap anak.

”Yang menjadi parameter kenapa Indonesia ini darurat kejahatan seksual karena hampir setiap laporan di polres maupun lembaga terkait lainya diseluruh nusantara didominasi kejahatan seksual. Itu angka hampir 52 sampai 58 persen,” katanya.

Karenanya, perlu adanya partisipasi masyarakat yang terkoneksi dengan pemerintah dan dinas terkait yang diterapkan diseluruh daerah atau gerakan perlindungan terpadu berbasis masyarakat.

Komnas Perlindungan Anak, lanjut Arist, juga mendorong adanya gerakan perlindungan anak sekampung. Ini, agar masing-masing desa/kampung atau kelurahan memperhatikan anak-anaknya.

”Jadi ini salah satu cara kita memutus mata rantai kekerasan terhadap anak yakni dimulai dari rumah. Jadi ketika rumah, kampung kita ramah terhadap anak otomatis warga memperhatikan perkembangan psikologis anak dimasing-masing desa. Sehingga berimplikasi rumah ramah terhadap anak. Karena ada kontrol dari masyarakat,” ungkapnya.

Terlebih, kata dia, untuk angka kekerasan terhadap anak di Kota Metro juga semakin meningkat. Diketahui, pada tahun 2005 tercatat 5 kejahatan seksual, kemudian meningkat di tahun 2016 sebanyak 46 kasus dan di tahun 2017 sampai bulan September menjadi 69 kasus. ”Tadi dari data Dinas Sosial kasus kejahatan terhadap anak meningkat. Bayangkan saja dari tahun 2005 dari yang terlapor 5 kemudian di tahun 2017 menjadi 60 an lebih,” jelasnya.

Wakil Walikota Metro Djohan juga meminta Disos Kota Metro untuk runtin melakukan sosialisasi tentang bahaya kekerasan terhadap anak. Sehingga masyarakat faham akan tindak kekerasan terhadap anak dan lebih memperhatikan pertumbuhan anak.

Apalagi, kata dia, Kota Metro merupakan kota yang mencanangkan Kota Layak Anak (KLA). Jadi sangat tidak mungkin Kota Metro menjadi KLA jika kekerasan terhadap anak tinggi. ”Kita inikan mencanangkan KLA. Jadi bagaimana kita disebut KLA kalau kekerasan terhadap anaknya tinggi. Untuk itu Dinas Sosial harus mensosialisasikan ini ke masyarakat. Agar bisa di implementasikan dan diterapkan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Disos Kota Metro Subehi mengakui sampai Oktober 2017 sudah terjadi 69 kasus kekesarasan terhadap anak. Karenanya, Dinas Sosial akan terus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat tentang bahayanya kekerasan terhadap anak. ”Ya salah satunya seminar ini untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan anak di Bumi Sai Wawai,” tutupnya. (*)  

 

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten mengandung hak cipta dari LampuIJO.com